PC IMM KAB.BERAU
Image by Andi Amirullah -

Senin, 13 Agustus 2012

MANIPULASI BAHASA OLEH TIM Independent Turap Bujangga

siapapun yang bersalah harus bertanggung jawab...sudah terlalu banyak uang rakyat yang terbuang sia-sia... Kaltimpost, Sabtu, 11 Agustus 2012, 08:53:00 Tim ITS : Pembangunan Turap Tak Salah Penyebab Runtuhnya Jalan Bujangga Dibeber TANJUNG REDEB. - Tim pengkaji independen dari Institut Teknologi Surabaya (ITS) menjelaskan penyebab amblasnya badan Jalan yang disertai runtuhnya turap Bujangga yang terjadi 23 Mei lalu. Penjelasan hasil kajian itu, dihadiri perwakilan masyarakat, lembaga swadaya masyarakat (LSM), konsultan dan kontraktor pembangunan turap Bujangga. Sementara dari Pemerintah Kabupaten Berau, hadir Kepala DPU Taufan Majid, Kepala Inspektorat Suriansyah, Perwakilan Badan Perencaaan Pembangunan (Bappeda) dan Kelurahan Bedungun. Profesor Indrasurya B Muchtar yang menjadi koordinator tim pengkaji memaparkan kondisi Sungai Segah, terutama di kawasan jalan Bujangga hingga sepanjang 1,5 kilometer ke arah Jl Ahmad Yani. Dikatakannya posisi sungai Segah di Bujangga adalah palung yang setiap saat terjadi perubahan. Posisi daratan disisi Gunung Tabur terus mengalami penambahan menjadi tanjung. Sementara di sisi Tanjung Redeb yang kawasan Bujangga bergerak menjadi teluk. Alur sungai terdalam pun terus mengalami pergeseran. “Ini sudah terus terjadi sejak ribuan tahun dan akan terus terjadi, sehingga memang kawasan ini adalah kawasan rawan bencana,” ucapnya Dari pelaksaaan pembangunan turap Bujangga dikatakan Indrasurya bukan karena pembangunan turap yang salah. Pasalnya, pembangunan turap yang dilakukan sesuai dengan asumsi perencanaan yang ditetap. Hanya saja, asumsi perencanaan kawasan tersebut, tidak dilakukan secara keseluruhan. “KALAU ASUMSI UNTUK MEMBANGUN TURAP, PERENCANAAN BENAR SAJA. TETAPI KALAU MELIHAT KONDISI KAWASAN SEHARUSNYA ADA PERENCANAAN TAMBAHAN,” ungkapnya. TIDAK DILAKUKANNYA PERENCANAAN SECARA MENYELURUH, ditambahkan indrasurya SALAH SATUNYA DIKARENAKAN KETERBATASAN WAWASAN YANG DIMILIKI. Pihaknya sebagai tim pengkaji juga baru tahu setelah mempelajarai dan menelusuri kawasan tersebut secara menyeluruh. “Selama ini berasumsi dengan keberhasilan pembangunan sebelumnya. Misalkan saja asumsi yang dilakukan 1-5. Sementara dikawasan itu seharusnya 1-10. Diasumsi 6-10 ini yang kemungkinan besar titik masalah yang harus diselesaikan,” bebernya. Dari hasil kajian tersebut, tim independen pun memberikan beberapa pilihan penanganan. Pilihan penanggulangan itu diantaranya membangun jalan baru, karena jalan di tepi sungai itu tidak mungkin lagi menjadi jalan utama. Meskipun perbaikan jalan yang ambles bisa dilakukan, namun tim pengkaji tidak menjamin jalan tersebut akan aman. Kalau pun diperbaiki harus menggunakan kontruksi yang mampu melawan gerusan. Pilihan lain yang diajukan adalah rekaya sungai dengan sistem River Training. Dimana Daratan disisi Gunung Tabur dibuka untuk membuat jalur sungai baru. (hms4) — bersama Sang Legenda dan 10 lainnya.
READ MORE - MANIPULASI BAHASA OLEH TIM Independent Turap Bujangga

DPD KNPI SECARA RESMI MENOLAK TAMBANG BLOK PRAPATAN PT. BERAU COAL

MAHASISWA BERAU POST, sekitar 7 pemuda anggota KNPI Kab Berau dipimpin oleh ketua KNPI Kab Berau siang tadi (11/08) membentangkan spanduk yang berisikan seruan penolakan terhadap keberadaan serta pengoprasian tambang prapatan yang berlokasi di belakang jalan bujangga. Spanduk berukuran 1 X 4 meter tersebut terpajang di jalan pemuda, tepat bersebelahan dengan Gelora Olahraga (GOR PEMUDA) kab. Berau. Spanduk yang berisikan penolakan terhadap aktivitas pertambangan tersebut adalah salah satu bentuk konsistensi dan keseriusan DPD KNPI Berau dalam tindakan nyata guna melestarikan serta menekan dampak buruk aktivitas pertambangan terhadap lingungan di kota berau. Ditemui disela-sela pemasangan spanduk yang berisi kecaman vulgar penolakan tersebut, Bastian yang menjabat sebagai Ketua Umum DPD KNPI Berau menyampaikan bahwa salah satu tindakan ini adalah bentuk protes keras terhadap adanya aktivitas tambang di berau “DPD knpi berau dengan keras menolak adanya aktivitas pertambangan yang menurut kami jelas lebih banyak mudharatnya dari pada kebaikannya, belum lagi kerusakan-kerusakan yang akan kita dapati dari aktivitas pertambangan tersebut, terlebih bahwa terdapat indikasi adanya ketidak beresan dalam hal pengeluaran surat perijinan aktivitas tambang yang berlokasi di prapatan itu” jelas bastian. Pria yang gencar mengkritisi kebijakan pemerintah daerah ini dalam kesempatan kemarin kepada pakelonan post juga menyampaikan bahwa tambang prapatan bujangga tersebut dapat dikatakan bermasalah dalam hal perijinan pertambangan, hal ini jelas menyalahi peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengeksplorasian sumber daya alam tersebut, ia menambahkan bahwa tidak pernah terbukti ada tambang yang dapat memberikan banyak dampak postitif terhadap kesejahteraan masyarakat yang ada di daerah pertambangan tersebut, kalau masalah tambang ini dibiarkan berlarut-larut maka tunggu saja beberapa tahun kedepan berau akan menyelip samarinda yang pada saat ini menjadi kota seribu tambang yang kembali masyarakatnya yang menjadi korban akibat kerusakan lingkungan yang disinyalir adalah akibat aktivitas pertambangan yang tidak memperhatikan dampak terhadapa lingkungan sekitarnya. (Choirul)
READ MORE - DPD KNPI SECARA RESMI MENOLAK TAMBANG BLOK PRAPATAN PT. BERAU COAL

Minggu, 24 Juni 2012

Ki Bagus Hadikusumo

Ki Bagus Hadikusumo adalah sosok penting bagi Indonesia dan bagi Muhammadiyah. Pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini dilahirkan di kampung Kauman Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Beliau adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqih dan tasawuf. Pada usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi. Setelah Fatmah meninggal, ia menikah lagi dengan seorang wanita pengusaha dari Yogyakarta bernama Mursilah. Pernikahan ini dikaruniai tiga orang anak. Ki Bagus kemudian menikah lagi dengan Siti Fatimah (juga seorang pengusaha) setelah istri keduanya meninggal. Dari istri ketiga ini ia memperoleh lima anak. Sekolahnya tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD) ditambah mengaji dan besar di pesantren. Namun, berkat kerajinan dan ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya ia menjadi orang alim, mubaligh dan pemimpin ummat. Ulama Produktif dan Berani Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPMHoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muham¬madiyah (1942-1953). Pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan berhasil ia rumuskan sedemikian rupa sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya. HAMKA, misalnya, mendapatkan inspirasi dari muqaddimah tersebut untuk merumuskan dua landasan idiil Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah. Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari buku-buku karyanya tersebut tercer¬min komitmennya terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam. Munculnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah adalah pada saat terjadi pergo¬lakan politik internasional, yaitu pecahnya perang dunia II. Kendati Ki Bagus Hadikusuma menyatakan ketidaksediaannya sebagai Wakil Ketua PB Muham¬madiyah ketika diminta oleh KH Mas Mansur pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta, ia tetap tidak bisa mengelak memenuhi panggilan tugas untuk menjadi Ketua PB Muhammadiyah ketika KH Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada tahun 1942. Apalagi dalam situasi di bawah penjajahan Jepang, Muhammadiyah memerlukan tokoh kuat dan patriotik. Pada masa pendudukan Jepang, Ki Bagus menentang “Sei Kerei” yang diwajibkan bagi sekolah-sekolah setiap pagi hari. Beliau berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam, untuk memerintahkan umat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. Ia merasa terpanggil untuk menyelamatkan generasi muda dari kesyirikan, maksudnya upacara tersebut jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah melalui debat yang sangat seru, menegangkan dan beresiko tinggi dengan pihak Jepang, akhirnya pemerintah Jepang memberi dispensasi khusus bagi sekolah Muhammadiyah untuk tidak melakukan upacara tersebut. Islamisasi Dasar Negara Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, Ki Bagus termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Peran beliau sangat besar dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI. Ki Bagus Hadikusumo adalah salah satu tokoh yang cukup lantang meneriakkan syariah Islam. Beliau bahkan memberikan antitesis atas ‘Lima Prinsip Dasar’ yang kemudian dikenal dengan Pancasila yang diajukan oleh Sukarno-M. Yamin, dengan mengajukan pendapat bahwa ‘Islam Sebagai Dasar Negara.’ Bahkan, Ki Bagus lebih tegas lagi meminta kata-kata bagi pemeluk-pemeluknya ditiadakan, sehingga berbunyi: dengan kewajiban menjalankan syariat Islam. Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh vokal yang mewakili golongan Islam dalam sidang BPUPKI pada 31 Mei 1945 mengeluarkan pernyataan yang intinya “membangun negara di atas ajaran Islam”. Gagasannya tersebut didasarkan pada alasan sosio-historis dan pemahaman terhadap ajaran Islam. Menurut Ki Bagus, agama Islam paling tidak sudah enam abad menjadi agama bangsa Indonesia. Adat istiadat dan hukum Islam sudah berlaku lama di Indonesia. Pada sidang pleno BPUPKI tanggal 14 Juli 1945 Ki Bagus Hadikusumo yang mengusulkan dihapuskannya kata-kata dalam kalimat Ketuhanan, yaitu bagi pemeluk-pemeluknya. Pada awalnya Ki Bagus Hadikusumo hanya mengomentari soal redaksi dan kemudian mengemukakan alasan lain, bahwasanya itu merupakan perundang-undangan ganda, yaitu untuk kaum muslim dan satu untuk umat lain, hal ini tidak dapat diterima. Sehingga redaksi Sila Pertama usulan Ki Bagus berbunyi “Ketuhanan dengan menjalankan Syariat Islam.” Artinya, dalam pandangan Ki Bagus, syariah Islam harus berlaku secara umum di Indonesia. Dari sini terjadilah perdebatan sengit di antara ke dua kubu. Saking sengit dan tegangnya pertemuan itu, sampai-sampai Soekarno memilih tak melibatkan diri dalam lobi tersebut. Soekarno terkesan menghindar dan canggung dengan kegigihan Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum Muhammadiyah ketika itu, dalam mempertahankan seluruh kesepakatan Piagam Jakarta. Soekarno kemudian hanya mengirim seorang utusan untuk turut dalam lobi yang bernama Teuku Muhammad Hassan. Bahkan dalam pembahasan UUD terutama Pasal 28 Bab X tentang agama, yang berbunyi, “(1) Negara berdasar Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya; (2) Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agamanya masing-masing,” terjadilah perdebatan yang cukup sengit. Ki Bagus Hadikusumo berulang-ulang meminta kepada pimpinan rapat untuk menjelaskan arti anak kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” secara pasti. Agar tidak terjadi salah tafsir. Soekarno yang saat itu menjadi ketua Panitia Sembilan dan anggota BPUPKI menanggapi bahwasanya hal itu sudah merupakan keputusan mutlak dari hasil kompromi dari kedua belah pihak, yaitu golongan Nasionalis Sekuler dan Islam. Setelah diskusi yang panjang mengenai batang tubuh Undang-undang Dasar, Ki Bagus Hadikusumo untuk ketiga kalinya minta penjelasan mengenai anak kalimat “bagi pemeluk-pemeluknya”. Akan tetapi, ketua menjelaskan bahwa masalah ini sudah dibahas panjang lebar pada hari sebelumnya. Sekali lagi, ia menyatakan ketidaksetujuannya dan tetap pada pendiriannya, yaitu dihapuskannya kata bagi pemeluk-pemeluknya dalam anak kalimat sila “Ketuhanan dengan menjalankan Syariat Islam.” *** Betapa gigihnya dan teguhnya Ki Bagus dalam memperjuangkan Syariat Islam agar menjadi dasar negara. Bagi Ki Bagus, pelembagaan Islam menjadi sangat penting untuk alasan-alasan ideologi, politis, dan juga intelektual. Pada masa Pemerintahan Kolonial, Ki Bagus dan beberapa ulama lainnya juga pernah terlibat dalam sebuah kepanitiaan yang bertugas memperbaiki peradilan agama (priesterraden commisse). Hasil penting sidang-sidang komisi ini ialah kesepakatan untuk memberlakukan hukum Islam. Akan tetapi, Ki Bagus dikecewakan oleh sikap politik pemerintah kolonial yang didukung oleh para ahli hukum adat yang membatalkan seluruh keputusan penting tentang diberlakukannya hukum Islam untuk kemudian diganti dengan hukum adat melalui penetapan Ordonansi 1931. Kekecewaannya itu ia ungkap kembali saat menyampaikan pidato di depan Sidang BPUPKI. Ki Bagus Hadikusumo wafat pada usia 64 tahun. Beliau wafat meninggalkan sebuah teladan dan landasan perjuangan. Tugas kita adalah melanjutkan apa yang sudah beliau bangun. Mewujudkan Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya: Masyarakat Indonesia yang bersyariat Islam! [sumber: majalah tabligh online
READ MORE - Ki Bagus Hadikusumo

Minggu, 10 Juni 2012

Beasiswa Kaltim Cemerlang 2012

Kesempatan Beasiswa Kaltim Cemerlang 2012 Bagi Mahasiswa/si Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Muhammadiyah Tanjung Redeb sebanyak 75 Orang senilai Rp. 187.500.000,-/75 Mahasiswa sedangkan untuk Mahasiswa/si Sekolah TInggi Ilmu Tarbiyah Muhammadiyah Tanjung Redeb sebanyak 60 Orang Senilai 150.000.000,-/60 Mahasiswa.. Untuk pendaftaran terlebih dahulu mendaftar di Beasiswa Kaltim Cemerlang secara Online, Petunjuk pendaftaran tertera di Website Beasiswa Kaltim Cemerlang 2012....
READ MORE - Beasiswa Kaltim Cemerlang 2012

Riwayat Buya Hamka Menegakkan Risalah Kebenaran Bersama Muhammadiyah

“Ayah hanya takut tidak bisa jawab pertanyaan Munkar Nakir!’’ Pertanyaan ini diajukan Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) kepada ayahnya mengenai soal keengganannya untuk melakukan seikere (membungkuk ke arah matahari) atas perintah tentara Jepang. Sang ayah, sebagai tokoh pergerakan dan ulama Minangkabau, Haji Karim Amrullah, yang juga kondang dengan sebutan ‘Haji Rasul’ itu, tentu saja menolak mentah-mentah perintah yang berkonotasi ‘menyembah matahari’ itu. Ia pun sadar sepenuhnya akan risikonya. Tapi, demi keyakinan terhadap nilai ‘akidah’, maka perintah memberi hormat kepada dewa matahari itu tidak dilakukannya. Keteguhan sikap Haji Karim Amrullah itulah yang kemudian oleh Hamka terus dibawa sepanjang usia. Berkali-kali dalam situasi genting ia berani menyatakan diri menolak hal apa pun yang melanggar nilai dasar agama, meskipun itu berarti membuka lebar pintu penjara. Hamka yang lahir di sisi danau Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908, mampu menunjukkan sikap teguh terhadap perkembangan arus zaman hingga akhir masa hidupnya. Sebagai anak manusia yang lahir di bumi Minangkabau, Hamka memang tidak sempat mengenyam pendidikan formal yang tinggi. Sekolahnya hanya dijalani selama tiga tahun. Namun, karena bakat intelektualnya yang berlebih, terutama dalam penguasaan bahasa Arab, ia kemudian tumbuh dan besar menjadi ulama yang disegani, bahkan seringkali disebut salah satu ulama besar Asia Tenggara. Darah dari pihak orang tua sebagai tokoh pembaru ajaran Islam dan perjuangan nasional kemerdekaan, membuat telinga Hamka semenjak masa kanak sudah akrab dengan berbagai pembicaraan mengenai dunia keilmuan. Diskusi yang dilakukan sang ayah bersama rekan-rekannya yang memelopori gerakan Islam Kaum Muda Mingkabau itu ternyata tanpa sadar tertanam kuat di hatinya. Dan, layaknya seorang anak muda yang gelisah dan didukung kebiasaan orang Minangkabau yang suka merantau, Hamka sejak usia sangat belia sudah seringkali meninggalkan rumah. Pada umur 16 tahun misalnya, ia sudah pergi ke Yogyakarta untuk menimba ilmu dari berbagai tokoh pergerakan Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, H Oemar Said Tjokroaminoto, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin. Kursus-kursus para tokoh pergerakan yang diadakan di Gedung Abdi Dharmo di Pakualaman, Yogyakarta, untuk beberapa lama diikutinya. Alhasil, jiwa pergerakannya menjadi tumbuh semakin kuat, apalagi setelah ia tinggal di rumah iparnya yang menjadi ketua cabang Persyarikatan Muhammadiyah, A.R Mansur di Pekalongan. Di situlah Hamka mendapat ‘udara’ pengalaman pertamanya di dalam mengurus keorganisasian. Setelah beberapa lama tinggal bersama iparnya, pada Juli 1925, Hamka pulang kampung ke Sumatera Barat. Ia kembali ke rumah ayahnya yang berada di Gatangan, Padangpanjang. Disitulah ia kemudian mendirikan Majelis Tabligh Muhammadiyah. Semenjak itulah sejarah kiprah Hamka dalam organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu dimulai. Dan baru berakhir beberapa puluh tahun ke depan sebelum ia wafat. Berhaji Sembari Mencari Ilmu ke Mekah Setelah sekitar dua tahun berkiprah di kampung halamannya, pada Februari 1927 Hamka berangkat ke Mekah. Selain untuk menunaikan ibadah haji, kepergiannya itu juga dimanfaatkan untuk menimba ilmu dengan tinggal di sana selama setengah tahun. Sembari mengkaji ilmu agama ke berbagai tokoh keagamaan Islam yang mengajar di Baitul Haram, untuk mencukupi biaya hidup sehari-harinya, Hamka bekerja pada sebuah percetakan. Ia baru pulang ke tanah air sekitar bulan Juni 1927 dan langsung menuju ke Medan. Di sana ia kemudian pergi ke daerah perkebunan yang ada di sekitar wilayah pantai timur Sumatera (Deli) untuk menjadi guru agama. Pekerjaan ini dilakoninya sekitar lima bulan. Pada akhir tahun 1927, ia baru sampai kembali ke kampung halamannya di Padangpanjang. Keterlibatannya dalam organisasi Muhammadiyah semakin intens ketika pada tahun 1928 ia diundang menjadi peserta kongres Muhammadiyah yang diselenggarakan di Solo. Dan setelah pulang, karirnya di persyarikatan semakin gemilang. Hamka secara berangsur memangku beberapa jabatan, mulai dari ketua bagian Taman Pustaka, kemudian Ketua Majelis Tabligh, sampai akhirnya meraih jabatan Ketua Muhammadiyah Cabang Padangpanjang. Bahkan, pada tahun 1930 ia mendapat tugas khusus dari pengurus pusat persyarikatan untuk mendirikan cabang Muhammadiyah di Bengkalis. Hamka di sini sudah mulai diakui eksistensinya. Usai mendirikan cabang di Bengkalis, pada 1931 Pengurus Pusat Muhammadiyah mengutus Hamka pergi ke Makassar. Tugas yang harus diembannya adalah menjadi mubalig dalam rangka mempersiapkan dan menggerakkan semangat rakyat untuk menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 yang diselenggarakan pada Mei 1932. Hamka tinggal di sana selama dua tahun. Pada 1934 ia kembali ke Padangpanjang untuk kemudian diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah. Berdakwah di atas Gagasan Roman Kiprah Hamka dalam pergerakan semakin gencar setelah ia pindah ke Medan, pada 22 Januari 1936. Persyarikatan Muhammadiyah semakin meluas ke segenap wilayah Sumatera bagian timur. Pada sisi lain, secara perlahan tapi pasti kemampuan intelektual dan kepenulisannya juga semakin terasah, terutama setelah ia memimpin majalah Pedoman Masyarakat dan Pedoman Islam (1938-1941). Berbagai artikel keagamaan serta cerita pendek ditulisnya dengan bahasa dan logika yang demikian jernih. Bakat menulisnya sebagai sastrawan serius pada dekade ini juga berkembang secara simultan dengan kemampuan orasinya yang amat memukau. Selain sibuk berceramah, Hamka kemudian menerbitkan berbagai karya roman seperti: Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnnya Kapal van Der Wick (1939), Merantau ke Deli (1940), Di dalam Lembah Kehidupan (1940, kumpulan cerita pendek). Isi berbagai romannya itu tampak jelas terpengaruh dari pengalaman pribadinya ketika ia pergi ke Mekah dan tinggal beberapa lama menjadi guru agama di lingkungan buruh perkebunan yang ada di Sumatera bagian timur. Pada kurun waktu ini ada satu karya Hamka yang sangat penting. Buku yang diterbitkan pada tahun 1939 itu diberi judul Tasawuf Modern. Hamka dalam buku ini mengkritisi kecenderungan dari berbagai aliran tasawuf yang ‘berpretensi negatif’ terhadap kehidupan dunia. Tasawuf banyak dijadikan sebagai cara untuk mengasingkan diri dari kehidupan dunia yang sering dipandang serba ruwet dan penuh kotoran dosa. Hamka dalam buku ini berusaha merubah persepsi itu. Ia menyerukan ‘tasawuf positip’ yang tidak bersikap asketisme. Katanya, menjadi Muslim sejati bukannya menjauhkan diri dari dunia, tapi terjun secara langsung ke dalamnya. Buku Hamka ini sampai sekarang tetap laris manis di pasaran. Kemudian, pada tahun 1942 bersamaan dengan jatuhnya koloni Hindia Belanda ke dalam tampuk kekuasaan penjajah Jepang, Hamka terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah Sumatera Timur. Posisi jabatan yang diterima pada masa sulit ekonomi ini dijalaninya selama tiga tahun. Setelah itu, pada tahun 1945 ia memutuskan untuk melepaskan jabatan tersebut karena pindah ke Sumatera Barat. Di sana Hamka terpilih menjadi ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Daerah Sumatera Barat. Jabatan ini ia rengkuh hingga tahun 1949. Menjelang pengakuan kedaulatan, yakni setelah tercapainya Persetujuan Roem Royen pada tahun 1949, ia memutuskan pindah dari Sumatera Barat ke Jakarta. Kali ini Hamka merintis karir sebagai pegawai negeri golongan F di Kementerian Agama yang waktu itu dipegang oleh KH Abdul Wahid Hasyim. Melihat kemampuan intelektualnya, menteri agama waktu itu menugaskan kepada Hamka untuk memberi kuliah di beberapa perguruan tinggi Islam, baik yang berada di Jawa maupun di luar Jawa. Beberapa perguruan tinggi yang sempat menjadi tempat mengajarnya itu antara lain; Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Falsafah Muhammadiyah di Padangpanjang, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) di Medan. Uniknya lagi, di tengah kesibukannya sebagai pengajar di berbagai universitas itu, Hamka sempat menulis biografi ayahnya, Haji Abdul Karim Amrullah. Katanya, buku yang ditulisnya ini adalah sebagai kenang-kenangan kepada ayahnya yang sangat teguh hati. Apalagi bagi sang ayah sendiri, Hamka adalah buah hatinya dimana ia pernah dijuluki sebagai ‘Si Bujang Jauh’ karena begitu sering dan lamanya merantau pergi ke berbagai negeri dan daerah. Di sela kegiatannya mengajar di berbagai universitas itu, Hamka mengulang kembali kepergiannya untuk beribadah haji ke tanah suci. Sama dengan kepergian hajinya yang dilakukan 24 tahun silam, kepergiannya ke Mekah kali ini juga disertai dengan perjalanannya ke beberapa negara yang berada di kawasan semenanjung Arabia. Hamka sendiri sangat menikmati lawatannya itu. Apalagi ketika berada di Mesir. Ia menyempatkan diri untuk menemui berbagai sastrawan kondang Mesir yang telah lama dikenalnya melalui berbagai tulisannya, seperti Husein dan Fikri Abadah. Mereka saling bertemu, bertukar pikiran dan minat dalam bidang sastera dan kehidupan umat secara keseluruhan. Sama halnya dengan kepulangan haji pertamanya, sekembalinya dari lawatannya ke berbagai negara di Timur Tengah itu, inspirasi untuk membuat karya sastera pun tumbuh kembali. Lahirlah kemudian beberapa karya roman seperti, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah. Bagi banyak kritikus sastera banyak diantara mereka menyebut bahwa, Hamka dalam penulisan karyanya itu banyak terpengaruh pujangga Mesir. Ini tampaknya dapat dipahami sebab ia seringkali menyatakan terkagum-kagum pada beberapa penulis karya dari negeri piramid itu, salah satunya adalah Al Manfaluthi. Usai pulang dari kunjungan ke beberapa negara Arab, pada tahun 1952 ia mendapat kesempatan untuk mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat. Hamka datang ke negara itu atas undangan Departemen Luar Negeri Amerika. Ia mengunjungi berbagai tempat, seperti negara bagian California, untuk memberikan ceramah yang berkaitan dengan agama. Kunjungan ke Amerika kali ini ternyata hanya merupakan kunjungan pembuka saja. Setelah itu ia kemudian kerapkali diundang ke sana, baik atas undangan dari negara bersangkutan maupun datang sebagai anggota delegasi yang mewakili Indonesia. Pada kurun waktu itu, Hamka kemudian masuk ke dalam Badan Konstituate mewakili Partai Masyumi dari hasil Pemilu 1955. Ia dicalonkan Muhammadiyah untuk mewakili daerah pemilihan Masyumi di Jawa Tengah. Dalam badan ini Hamka bersuara nyaring menentang demokrasi terpimpin. Pada sebuah acara di Bandung, pada tahun 1958 ia secara terbuka menyampaikan pidato penolakan gagasan demokrasi terpimpin ala Soekarno itu. Namun, di tengah panas dan padatnya perdebatan, Hamka pada tahun itu juga sempat mendapat undangan menjadi anggota delegasi Indonesia untuk mengikuti Simposium Islam di Lahore. Setelah itu, kemudian dia berkunjung lagi ke Mesir. Dalam kesempatan kali ini dia mendapat kehormatan bidang intelektual sangat penting, yakni mendapat gelar Doktor Honoris Causa (HC) dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Di forum itu, ia menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai guru besar luar biasa dengan topik bahasan mengenai Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia. Dalam kesempatan ini Hamka menguraikan kebangkitan pembaharuan ajaran Islam yang terjadi di Indonesia, mulai dari munculnya gerakan Sumatera Thawalib, Muhammadiyah. Al Irsyad, dan Persatuan Islam. Gelar doktor luar biasa seperti ini ternyata diterimanya lagi enam belas tahun kemudian, yakni pada tahun 1974 dari University Kebangsaan, Malaysia. Gelar ini disampaikan langsung oleh Perdana Menteri Malaysia, Tun Abdul Razak. Seraya memberikan gelar, dalam pidatonya sang perdana menteri itu berkata bahwa,’’Hamka bukan lagi hanya milik bangsa Indonesia. Tetapi, juga telah menjadi kebanggaan bangsa-bangsa Asia Tenggara.” Menapak di antara Dua Orde Masa Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno menjadikan politik sebagai panglima. Waktu itu Soekarno menginginkan agar bangsa Indonesia betul-betul mandiri. Ia serukan gerakan untuk melawan imperialisme barat, yang disebut sebagai kekuatan neo-kolonialisme baru. Pada satu sisi ide ini berhasil cukup baik. Posisi Indonesia menjadi penting dan menjadi salah satu kekuatan sentral gerakan non blok. Namun, pada sisi yang lain perbaikan ekonomi ternyata tidak dapat berjalan baik. Pertentangan politik, terutama antara golongan nasionalis dan Islam menjadi-jadi, di mana kemudian mencapai puncaknya ketika pembicaraan mengenai konstitusi negara menjadi buntu. Baik pihak yang anti dan pendukung ide negara Islam terus saja tidak mampu berhasil mencapai kata sepakat. Dan Hamka hadir dalam percaturan perdebatan itu. Sayangnya, Presiden Soekarno tidak sabar melihat perdebatan itu. Dengan alasan adanya ancaman perpecahan bangsa yang serius, Soekarno pada 5 Juli 1959 kemudian mengeluarkan Dekrit Presiden, yang diantaranya adalah menyatakan pembubarkan Badan Konstituante dan kembali kepada konstitusi negara pada UUD 1945. Menyikapi keadaan tersebut, Hamka pada tahun yang sama, yakni Juli 1959, mengambil inisiatif menerbitkan majalah tengah bulanan, Panji Masyarakat. Hamka duduk sebagai pemimpin redaksinya. Sedangkan mengenai isi majalahnya, Hamka memberi acuan untuk memuat tulisan yang menitikberatkan kepada soal-soal kebudayaan dan pengetahuan ajaran Islam. Tetapi sayangnya, majalah ini berumur pendek, yakni hanya satu tahun. Majalah Panji Masyarakat dibubarkan oleh pemerintahan rezim Soekarno, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1960. Alasan pembredeilan: karena majalah memuat tulisan Dr Mohamad Hatta yang berjudul ‘Demokrasi Kita.’ Sebagai imbasnya, Hamka kemudian memutuskan diri untuk lebih memusatkan pada kegiatan dakwah Islamiyah dengan mengelola Masjid Agung Al-Azhar yang berada di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta. Dalam dunia politik pemuatan tulisan Hatta di majalah Panji Masyarakat itu memang membuat kehebohan besar. Perbedaan pandangan antara Soekarno dan Hatta dalam mengelola negara terbuka dengan nyata. Dalam tulisan itu Hatta mengkritik keras sistem demokrasi terpimpin yang dijalankan karibnya, Soekarno. Menurutnya, demokrasi yang tengah dijalankannya itu bukan demokrasi. Mengapa demikian? Sebab, ada sebagian kecil orang ‘’menguasai’’ sebagian besar orang. Ini tidak sesuai dengan prinsip demokrasi itu sendiri, di mana harus ada ‘persamaan’ pada setiap manusia. Maka, demokrasi seperti itu, tulis Bung Hatta, a priori harus ditolak. Panasnya persaingan politik pada sisi lain juga kemudian meniupkan badai fitnah kepada Hamka. Jaringan kelompok ‘politik kiri’ membuat tuduhan bahwa roman Tenggelamnya Kapal van der Wijk adalah merupakan plagiat dari roman sastrawan Perancis, Alphonse Karr yang kemudian disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi. Reaksi pro kontra segera saja menyergapnya. Golongan yang tidak suka akan adanya pengaruh agama di Indonesia memanfaatkan betul polemik ini untuk menghancurkan nama baiknya. Saat itu hanya HB Jassin dan kelompok budayawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) saja yang gigih membelanya. Berbagai tulisan atas polemik ini kemudian pada tahun 1964 dikumpulkan dan diterbitkan oleh Junus Amir Hamzah dengan judul Tenggelamnya Kapal van der Wijk dalam Polemik. Usaha penjatuhan citra kepada Hamka ternyata tidak hanya melalui karya sastera saja. Tanpa dasar serta alasan tuduhan yang jelas, pada 27 Januari 1964 tiba-tiba saja ia ditangkap oleh alat keamanan negara. Hamka kemudian dimasukkan ke dalam tahanan tanpa ada sebuah keputusan. Ia berada di penjara bersama para tahanan politik lainnya, seperti Muchtar Lubis, sampai tumbangnya tampuk kekuasaan Soekarno. Bagi penguasa, Hamka saat itu dianggap sebagai orang berbahaya. Namun, bagi Hamka sendiri, masuknya dia ke dalam penjara malahan seringkali dikatakan sebagai rahmat Allah. Menurutnya, akibat banyaknya luang waktu dipenjara maka ia dapat menyelesaikan tafsir Alquran, yakni Tafsir Al-Azhar (30 juz). ’’Saya tidak bisa membayangkan kapan saya bisa menyelesaikan tafsir ini kalau berada di luar. Yang pasti kalau tidak dipenjara maka saya selalu punya banyak kesibukan. Akhirnya, tafsir ini sampai akhir hayat saya mungkin tidak akan pernah dapat diselesaikan,’’ kata Hamka ketika menceritakan masa-masa meringkuk di dalam penjara. Selain itu, beberapa tahun kemudian Hamka juga mengakui bahwa tafsir Alquran ini adalah merupakan karya terbaiknya. Menjadi Imam dalam Shalat Jenazahnya Bung Karno Seperti sunnatullah, bahwa penguasa itu datang dan pergi silih berganti, maka setelah naiknya Presiden Soeharto dalam tampuk kekuasaan negara, secara perlahan kondisi fisik presiden Soekarno setelah itu pun terus menyurut. Berbeda dengan ketika berkuasa, hari-hari terakhir Panglima Besar Revolusi ini berlangsung dengan pahit. Soekarno tersingkir dari kehidupan ramai sehari-hari. Ia terasing dengan kondisi sakit yang akut di rumahnya. Soekarno terkena tahanan kota. Ia tidak diperbolehkan menerima tamu dan bepergian. Pada tahun 1971 Soekarno pun meninggal dunia. Mendengar Soekarno meninggal, maka Hamka pun pergi untuk bertakziah. Tidak cukup dengan itu, Hamka kemudian mengimami shalat jenazah mantan presiden pertama itu. Pada saat itu orang sempat terkejut dan bingung ketika Hamka bersedia hadir dalam acara tersebut. Mereka tahu Soekarno-lah dahulu yang memutuskan untuk memasukkannya dalam penjara. ‘’Saya sudah memaafkannya. Dibalik segala kesalahannya sebagai manusia, Soekarno itu banyak jasanya,’’ kata Hamka. Setelah itu, masa orde baru di bawah kepemimpinan Soeharto bergerak semakin cepat. Hamka semakin dalam menceburkan diri ke berbagai aktivitas keagamaan. Secara rutin ia berceramah ke berbagai wilayah baik dalam dan luar negeri. Setiap pagi sehabis Subuh siraman rohaninya yang disiarkan secara nasional melalui RRI terdengar ke berbagai penjuru pelosok tanah air. Dengan suara khas serak-serak basahnya, Hamka membahas berbagai soal kehidupan, mulai tingkat sangat sepele seperti cara bersuci yang benar sampai kepada persoalan sangat serius, misalnya soal tasawuf. Saking banyaknya penggemar, maka ceramahnya pun banyak diperjualbelikan dalam bentuk rekaman di tokok-toko kaset. Pada tahun 1975, Hamka diberi kepercayaan untuk duduk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Berbagai pihak waktu itu sempat sangsi, bila itu diterima maka ia tidak akan mampu menghadapi intervensi kebijakan pemerintah Orde Baru kepada umat Islam yang saat itu berlangsung dengan sangat massif. Namun, Hamka menepis keraguan itu dengan mengambil langkah memilih masjid Al-Azhar sebagai pusat kegiatan MUI dari pada berkantor di Masjid Istiqlal. Istilahnya yang terkenal waktu itu adalah kalau tidak hati-hati nasib ulama itu akan seperti ‘kue bika’, yakni bila MUI terpanggang dari ‘atas’ (pemerintah) dan ‘bawah’ (masyarakat) terlalu panas, maka situasinya akan menjadi sulit. Bahkan MUI bisa akan mengalami kemunduran serius. Usaha Hamka untuk membuat independen lembaga MUI menjadi terasa sangat kental ketika pada awal dekader 80-an, lembaga ini ‘berani melawan arus’ dengan mengeluarkan fatwa mengenai persoalan perayaan Natal bersama. Hamka menyatakan ‘haram’ bila ada umat Islam mengikuti perayaan keagamaan itu. Adanya fatwa itu kontan saja membuat geger publik. Apalagi terasa waktu itu arus kebijakan pemerintah tengah mendengungkan isu toleransi. Berbagai instansi waktu itu ramai mengadakan perayaan natal. Bila ada orang Islam yang tidak bersedia ikut merayakan natal maka mereka dianggap orang berbahaya, fundamentalis, dan anti Pancasila. Umat Islam pun merasa resah. Keadaan itu kemudian memaksa MUI mengeluarkan fatwa. Risikonya Hamka pun mendapat kecaman. MUI ditekan dengan gencarnya melalui berbagai pendapat di media massa yang menyatakan bahwa keputusannya itu akan mengancam persatuan negara. Hamka yang waktu itu berada dalam posisi sulit, antara mencabut dan meneruskan fatwa itu, akhirnya kemudian memutuskan untuk meletakkan jabatannya. Ia mundur dari MUI pada 21 Mei 1981. Bagi pengamat politik, sikap tegas Hamka ketika memimpin MUI adalah merupakan cerminan dari pribadinya. Bahkan, mereka pun mengatakan sepeninggal Hamka, kemandirian lembaga ini semakin sulit. Demi melanggengkan hegemoni Orde Baru kemudian terbukti melakukan pelemahan institusi keagamaan secara habis-habisan itu. Fatwa MUI sepeninggal dia terasa menjadi tidak lagi menggigit. Posisi lembaga ini semakin lemah dan terkesan hanya sebagai tukang stempel kebijakan pemerintah terhadap umat Islam belaka. Hamka yang wafat di Jakarta, 24 Juli 1981, meninggalkan karya pena yang sangat banyak jumlahnya. Tercatat paling tidak sekitar 118 buah yang sudah dibukukan. Ini belum termasuk berbagai cerita pendek dan karangan panjang yang tersebar di berbagai penerbitan, media massa, dan forum-forum ilmiah, serta ceramah. Sebagai bukti penghargaan yang tinggi dalam bidang keilmuan, Persyarikatan Muhammadiyah kini telah mengabadikan namanya pada sebuah perguruan tinggi yang berada di Yogyakarta dan Jakarta: Universitas Hamka (UHAMKA). Berbagai karya tulisnya yang meliputi banyak bidang kajian seperti politik, sejarah, budaya, akhlak dan ilmu-ilmu keislaman hingga kini terus dikaji oleh publik, termasuk menjadi bahan kajian dan penelitian untuk penulisan risalah tesis dan disertasi. Buku-bukunya terus mengalami cetak ulang.
READ MORE - Riwayat Buya Hamka Menegakkan Risalah Kebenaran Bersama Muhammadiyah

Jumat, 01 Juni 2012

MUHAMMADIYAH DAN GERAKAN KRISTENISASI

MUHAMMADIYAH DAN GERAKAN KRISTENISASI Drs. Abu Deedat Syihab.MH Ketua Majelis Tablig PDM-Kota Bekasi Direktur Pustaka Tazkia Az-Zahra Wk Ketua KDK-MUI Pusat Ketua Bid.Pemantau Aliran sesat/Pemurtadan MUI-Kota Bekasi • Pendahuluan. Kristenisasi bukanlah isue melainkan pakta dan realitas , sebagaimana baru-baru ini Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bekasi, pada hari Kamis, 07 Juli 2011 mendapatkan kiriman 2 ( dua ) kerdus Injil sebanyak 150 Examplar dari Lembaga Misi Kristen Internasional yaitu THE GIDEONS INTERNATIONAL ,yang merupakan perhimpunan dari kalangan pengusaha dan profesional Kristen, yang saat ini tergabung bersama di lebih dari 180 negara untuk persekutuan dan pelayanan. Perhimpunan ini bertujuan memperkenalkan Injil kristus kepada semua orang, sehingga akhirnya secara pribadi, mereka mengenal Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat. Apa yang dilakukan oleh lembaga Kristen ini : pertama sudah melakukan pelanggaran / tidak mematuhi terhadap kode etik penyiaran Agama : SK Menag No.70/thn 1978. Kedua, adalah sebagai bukti bahwa kristenisasi itu bukanlah isue, bukti ini sebagai jawaban untuk Pastor Situmorang yang ingin menghapuskan dan menolak istilah kristenisasi. • Latar belakang Berdirinya Muhammadiyah Bagi Muhammadiyah sebagai Ormas Islam yang tertua di Indonesia masalah kristenisasi bukanlah barang baru, karena lahirnya Muhammadiyah justru salah satunya untuk melakukan perlawanan terhadap gerakan kristeniasi . Kelahiran Muhammadiyah tidak lain karena diilhami, dimotivasi dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al Qur’an. Dan apa yang digerakkan oleh Muhammadiyah tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam dalam kehidupan yang riil dan konkrit. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan Tajdid yang bersumber pada Al-Qur”an dan As Sunnah. Gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, konkrit dan nyata, yang dapat dihayati, dirasakan dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil alamin. Oleh Alasan tersebut Muhammadiyah disebut sebagai gerakan Islam. Muhammadiyah juga memiliki identitas sebagai gerakan Dakwah maksudnya adalah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya yaitu dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan atau kancah perjuangannya. Muhamadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat hidup orang banyak seperti berbagai macam ragam lembaga pendidikan mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, membangun Rumah Sakit, Panti Asuhan dan sebagainya. Dua amal usaha Muhammadiyah ini dalam rangka melakukan perlawanan terhadap gerakan misi kristen lewat pendidikan dan kesehatan. Seluruh amal usaha Muhammadiyah itu merupakan manifestasi atau perwujudan dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan yang tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islam sebagaimana yang diajarkan al-Quran dan as-Sunnah Shahihah. Misi didirikannya Muhammadiyah adalah dalam rangka membendung gerakan Kristenisasi Dalam desertasi di Temple University (1995) berjudul The Muhammadiyah Movement and Its Controversy with Christian Mission in Indonesia, Alwi Shihab mengungkapkan, misi awal pendirian Muhammadiyah oleh KH Ahmad Dahlan adalah dalam rangka membendung arus gencar Kristenisasi yang ditopang oleh kebijakan kolonial pemerintah Belanda. Tiga tahun kemudian desertasi ini diterbitkan oleh penerbit Mizan Bandung dengan judul buku Membendung Arus: Respons Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia. Fakta-fakta kegigihan Muhammadiyah di era KH Ahmad Dahlan dalam berdakwah kepada para tokoh Kristen dan Katolik diabadikan dalam buku Muhammadiyah Setengah Abad: Makin Lama Makin Tjinta (1912-1962). Pada halaman 145-151 buku dokumenter ini diceritakan aktivitas KH Ahmad Dahlan kepada para pastor, antara lain: van Lith, van Driesse, Domine Bakker, dan Dr Laberton. Pertemuan dengan van Lith hanya berlangsung sekali, karena tak lama setelah dialog, van Lith meninggal. Dialog dengan van Driesse dilakukan di rumah M Joyo Sumarto (mertua M.M. Joyodiguno). Pertemuan ini pun hanya berlangsung sekali, karena sikap Driesse sangat kasar sehingga tidak bisa diajak berdialog mengenai soal-soal agama maupun ketuhanan. Pertemuan dengan Domine Bakker diadakan di Jetis beberapa kali. Karena pembicaraan Domine berbelit-belit dan tidak mau mengakui kekalahannya, akhirnya Dahlan mengajukan tantangan: “Marilah kita sama-sama keluar dari agama, kemudian mencari, menyelidiki, agama mana yang benar. Kalau ternyata kemudian agama Protestanlah yang benar, saya bersedia masuk agama Protestan. Akan tetapi sebaliknya, apabila Islam yang benar, Domine pun harus mau pula masuk agama Islam.” ...Dalam beberapa kali debat agama ini, Domine ditemani oleh dua orang pengikut dari Klaten. Atas hidayah Ilahi, dua orang pengikut Domine akhirnya masuk Islam setelah mendengar dakwah Ahmad Dahlan... Suatu ketika Dahlan mendengar berita bahwa Samuel Zwemmerberkunjung ke Indonesia dan berkhotbah di beberapa gereja, antara lain di Banjarmasin, Makassar, Surabaya dan Yogyakarta. Isi khotbahnya umumnya banyak sekali yang menghina agama Islam. Maka Dahlan mempersiapkan acara sambutan di Yogyakarta dengan mengadakan dialog openbaar (pengajian umum) di Ngampilan. Dalam rapat umum ini Zwemmer diundang untuk mendengarkan ceramah Dahlan, dan juga diberi kesempatan untuk berorasi menerangkan sekitar agamanya. Selanjutnya, ia diminta kesediaannya untuk menjawab pertanyaan dari para hadirin. Karena Zwemmer tak berani datang, maka Dahlan tampil sebagai pembicara tunggal. Berita ini ditangkap oleh Ki Hajar Dewantoro dalam surat kabar Darmo Kondo di Solo dengan komentar “Dr. Zwemmer tidak mampu menghadapi KH Ahmad Dahlan.” Pasca Ahmad Dahlan, Muhammadiyah masih mengamalkan prinsip asyidda`u ‘alal kuffar. • KH AR Fachruddin, Ketua Muhammadiyah terlama (1968-1990) menegaskan prinsip kemandirian beramal usaha dan ikhlasnya berjuang. Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak AR ini memberikan wasiat kepada kader persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan komunis. Pak AR berpesan: “Janganlah Cabang Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. Uang-uang yang demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik Semasa hidupnya, tokoh karismatik yang akrab dipanggil Pak AR ini memberikan wasiat kepada kader persyarikatan agar berpantang terhadap dana-dana yang tidak berkah. Di antara dana yang dilarang adalah dana judi, dana dari negara asing, Kristen dan komunis. Pak AR berpesan: “Janganlah Cabang Muhammadiyah mendirikan bangunan-bangunan hanya mengharapkan bantuan Pemerintah. Lebih-lebih lagi mengharapkan bantuan uang keuntungan lotre dari Yayasan Dana Bantuan. Dan lebih tidak pantas lagi kalau mengharapkan bantuan dari negeri asing, dari negara-negara Kristen, dari negara-negara komunis. Uang-uang yang demikian tidak akan memberi berkah, malah akan membawa tidak baik Dari itu gembirakanlah anggota-anggota Muhammadiyah agar suka beramal, suka berderma, suka beramal jariyah suka berwakaf. Insya Allah Cabang di tempat Saudara akan diberi berkah langsung oleh Allah SWT” (Mengenal dan Menjadi Muhammadiyah, UMM Press, Malang, hlm. 141). Semoga Kita dapat mengambil pelajaran dan Seharusnya warga persyarikatan belajar militansi kepada para pendahulu. Dan ini juga menjadi pelajaran bagi kaum muslimin untuk mandiri tidak ketergantungan negara Barat Kristen, karena nanti akan dijadikan budak mereka. Pendirian Gereja & Misi Penginjilan Akhir-akhir ini di Indonesia sering terjadi gesekkan antar umat beragama khususnya kaum kristen dengan penduduk setempat. Salah satu pemicunya adalah adanya agresivitas penginjilan yang dilakukan para misionaris kristen yang tidak mematuhi peraturan Pemerintah tentang Kode etik penyiaran agama dan Pendirian rumah ibadah, yaitu SK Menag No 70/thn 1978 dan Peraturan Bersama Menag & Mendagri No.9 dan 8 Thn 2006. Penulis sering menghadiri pertemuan antar Umat beragama yang dihadiri oleh Majelis-majelis agama ( Islam,Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Konghucu ). Perwakilan Budha, Hindu dan Konghucu terhadap peraturan-peraturan tersebut tidak ada masalah, bahkan perwakilan dari agama Budha pernah menyampaikan keluhan yang disampaikan kepada penulis bahwa kami juga merasa resah karena umat kami banyak diambilin sama teman-teman kristiani. Untuk mengetahui akar permasalahan gesekkan tersebut, mari kita lihat komentar tokoh-tokoh kristen di Indonesia dalam pendirian gereja dan misi penginjilan. Apa sebenarnya misi dan tujuan suatu gereja didirikan? Dalam buku “ Bergerak Dalam Misi dan Penginjilan “karangan Niko Njotorahardjo yang diterbitkan Yayasan Andi Jogyakarta halaman 85 menyebutkan sebagai berikut : “ Penginjilan dengan Membuka Gereja Baru”. Dr.C Peter Wagner dalam bukunya “ Penanaman Gereja untuk tuaian yang lebih besar “menyatakan “ satu-satunya metodologi Penginjilan yang paling efektif dibawah kolong langit ini adalah menanam gereja-gereja baru “ hal 86. Gereja-gereja di Indonesia yang bertumbuh dengan cepat karena banyak membuka gereja baru adalah Gereja Pantekosta di Indonesia ( GPDI ), Gereja Pantekosta Pusat Surabaya ( GPPS ) dan Gereja Bethel Indonesia ( GBI ), hal 90. Dean Wiebracht dalam bukunya “ The world Beyond Your Walls “ edisi Indonesia berjudul “Menajawab Tantangan Amanat Agung “ diterbitkan Yayasan ANDI Yogyakarta tahun 1997.; Pedoman untuk Memobilisasi Gereja anda dalam Pekerjaan Misi. Sebuah gereja yang sungguh-sungguh mengemban mandat untuk memuridkan (pen.mengkristenkan ) segala bangsa. Sebuah gereja Amanat Agung menyadari bahwa penginjilan dunia bukan sekedar satu diantara banyak program gereja. Penginjilan dunia adalah sentral keberadaan gereja (hal 50). Karena sebuah gereja amanat agung dengan sungguh-sungguh memuridkan segala bangsa, gereja menggerakkan sumber-sumber dayanya dalam penginjilan dunia. Sebuah gereja secara aktif berusaha menggandakan misionaris. Gereja ini melakukan apa yang dapat dilakukan untuk melihat lebih banyak pekerja di ladang tuaian.(hal 52 ). Dihalaman 55 Fungsi Gereja didirikan sebagai berikut ; • Gerejakami dengan sungguh-sungguh mengemban mandat untuk memuridkan segala bangsa. • Gerejakami menggerakan sumber daya dalam penggenapan amanat agung, kami tempatkan diatas penginjilan dunia. • Gereja kami secara aktif menarik, melatih, mengutus, dan mendukung misionaris. • Gerejakami menjadi tempat bagi mereka yang pergi dan mereka yang bekerja sama untuk untuk menjangkau mereka yang belum terjangkau. Tahun 1964, tokoh Kristen Batak, Dr. Walter Bonar Sidjabat, menerbitkan buku berjudul Panggilan Kita di Indonesia Dewasa Ini (Jakarta:Badan Penerbit Kristen, 1964). Melalui bukunya ini, Dr. Sidjabat menegaskan misi sejati kehadiran Kristen dan Gereja-gereja mereka di seluruh pelosok Indonesia. Dalam pengantar bukunya, ia menulis: “Kita terpanggil untuk mengikrarkan iman kita di daerah-daerah berpenduduk berambut keriting, berombak-ombak dan lurus-lurus, di tengah penduduk berkulit coklat, coklat tua, kuning langsat dan sebagainya. Guna penuaian panggilan inilah gereja-gereja kita berserak-serak di seluruh penjuru Nusantara agar rakyat yang “bhineka tunggal ika”, yang terdiri dari penganut berbagai agama dan ideologi dapat mengenal dan mengikuti Yesus Kristus”.(Kutipan-kutipan dari buku Dr.Sidjabat) Bahwa kehadiran sebuah gereja bagi kaum Kristen bukanlah sekedar persoalan “kebebasan beribadah” atau “kebebasan beragama”. Banyak kalangan Muslim dan mungkin juga kaum Kristen sendiri yang tidak paham akan eksistensi sebuah gereja. Bahwa, menurut kaum Kristen, pendirian sebuah gereja bukan sekedar pendirian sebuah tempat ibadah, tetapi juga bagian dari sebuah pekerjaan Misi Kristen; agar masyarakat di sekitarnya “mengenal dan mengikuti Yesus Kristus”. dikatakan dalam buku ini: “Di atas Gereja terletak tugas pekabaran Injil. Pekabaran Injil adalah dinamis. Secara dinamis Gereja bertanggung jawab akan pekabaran Injil ke dalam, kepada orang-orang yang telah menjadi anggota-anggota tubuh Kristus (“ecclesia”) dan keluar, kepada orang-orang yang sedang menunggu, mengabaikan, menolak atau tidak acuh terhadap Yesus sebagai Juruselamat mereka.” (hal. 41). Sementara itu, bagi kaum Muslim yang sadar akan keislamannya, persoalan misi Kristen, bukanlah masalah sepele. Orang yang berganti agama, keluar dari agama Islam, dalam pandangan Islam disebut orang yang murtad dan kafir. Amal perbuatan mereka tidak diterima oleh Allah. (QS 2:217, 24:39). Al-Quran juga menegaskan, bahwa Allah SWT sangat murka jika dikatakan Dia mempunyai anak. (QS 19:88-91). Dan orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari tiga oknum, maka orang itu disebut telah kafir (QS 5:72-75). Cahaya suku & Partner International (PI) Kami bersama Partner Internasional (PI) terus bergerak menjalankan amanat Agung kristus khususnya di jawa barat sejak tahun 1997. PI membentuk tim untuk pembangunan gereja, melatih dan mengirimnya ke tempat yang belum terjangkau.PI adalah partner yang sebenarnya karena mereka tidak mendikte kami melainkan bergerak seiringan saling membantu dan memotivasi untuk gereja. Visi dari PI: Untuk membawakan kabar Bible (Injil) kepada masyarakat Sunda Mendirikan gereja untuk dikalangan mereka khususnya di tempat yang belum ada gereja pribuminya. Karena sunda adalah suku dengan 34 juta orang dan sebagaian besar didalamnya adalah muslim, suku sunda adalah Muslim 99,9% jadi ini adalah tugas YANG BESAR! Cahaya Suku Project josua Cahaya Suku merupakan platform yang bervisikan melihat pergerakan pembangunan gereja di antara 23 cluster yang belum terjangkau. Untuk di Indonesia Cahaya Suku membagi suku bangsa di Indonesia yang terdiri dari 128 suku ini menjadi 23 cluster dan dari 23 cluster(jendela wilayah) 90% adalah cluster muslim.jadi 22 dari 23 cluster ini adalah cluster masyarakatMuslim. Jadi ini merupakan tugas yang berat Cara Melakukannya Kami merekrut, melatih dan mengirim pembangun gereja untuk tinggal di tengah- tengah komunitas muslim serta untuk menyemangati lembaga pelayanankita. Sebenarnya mereka tidaklah berbicara, mereka menjadi model di masyarakat. Namun inilah yang kita lihat selama ini para pembangun gereja berada disana berbuat sesuatu bagi masyarakat, menjadi bagian dari masyarakat dan membagi kasih kristus kepada mereka. Setiap pembangun gereja perlu menetapkan platform mereka sebagai identitas sekuler mereka. Hal ini dikarenakan kita bekerja diantara sesama Muslim, kita tidak berangkat dari platform pembangun gereja tentunya melainkan dengan platform sekuler lainnya. Ketika mereka berbicara dengan saya “125 keluarga sedang bekerja dengan rajin dalam 12 cluster dalam berbagi tentang bible , dan sebagian dari mereka juga mempelajari kebersamaan di Pos Penginjilan disaat mereka bersama. Inilah yang kamilakukan selama ini kami memodel,kami tahu yang kami lakukan kami mendapat penerimaan dari masyarakat shingga kami dapat membagi kasih kristus kepada mereka.” Selama kurun waktu hingga tahun 2005 telah menunjukkan pertambahan pengikut sebanyak 125 keluarga dan ini adalah penduduk asli! Para pemodel yang handal dan ini menunjukkan sebuah potensi yang besar bukan sekedar angka belaka, melainkan ada tangan Tuhan dan ini sebuah gerakan yang besar! Sekelompok kaum Kristen evangelis yang memasang target tahun 2020 sebagai masa “panen raya”. Sebuah buku berjudul Transformasi Indonesia: Pemikiran dan Proses Perubahan yang Dikaitkan dengan Kesatuan Tubuh Kristus (Jakarta: Metanoia, 2003), menggambarkan ambisi dan harapan besar kaum misionaris Kristen di Indonesia tersebut. Ditegaskan dalam buku tersebut: ”Indonesia merupakan sebuah ladang yang sedang menguning, yang besar tuaiannya! Ya, Indonesia siap mengalami transformasi yang besar. Hal ini bukan suatu kerinduan yang hampa, namun suatu pernyataan iman terhadap janji firman Tuhan. Ini juga bukan impian di siang bolong, tetapi suatu ekspresi keyakinan akan kasih dan kuasa Tuhan. Dengan memeriksa firman Tuhan, kita akan sampai kepada kesimpulan bahwa Indonesia memiliki prakondisi yang sangat cocok bagi tuaian besar yang Ia rencanakan.” Inilah tekad kaum misionaris Kristen untuk mengkristenkan Indonesia. Segala daya upaya mereka kerahkan. Gereja-gereja terus dibangun di mana-mana untuk memuluskan misi mereka. Gereja-gereja dan gerakan misi terus bergerak untuk meraih tujuan, yang ditegaskan pada sampul belakang buku ini: ”supaya semua gereja yang ada di Indonesia dapat bersatu sehingga Indonesia dapat mengalami transformasi dan dimenangkan bagi Kristus.” Menghadapi serbuan kaum misionaris tersebut, seharusnya kaum Muslim tidak perlu berkecil hati. Sudah saatnya umat Islam tidak bersikap menunggu dan defensif. Mungkin sudah tiba masanya, organisasi-organisasi Islam mencetak dai-dai yang tangguh, cerdas, berani, santun, dan ramah, untuk menyadarkan para pendeta Kristen dan tokoh-tokohnya, bahwa mereka sedang memeluk keyakinan yang salah (sesat/adh-dhalliin). Ajaklah mereka untuk menyembah Allah semata-mata, tidak menserikatkan Allah dengan yang lain, dan mengakui kenabian Muhammad saw. Jangan menyatakan Allah punya anak. Kristenisasi diakui dan dibenarkan oleh para Pendeta Kristen sendiri. Pdt. Ioanes Rakhmat membenarkan adanya kristenisasi yang dilakukan oleh Kelompok Kristen Fundamentalissebagai-berikut : Mereka Bermental triumfalistik ekspansionistik Para penganut fundamentalisme Kristen memandang versi agama Kristen mereka sebagai versi agama yang paling unggul, paling benar, paling baik, jika dibandingkan dengan agama-agama lain non-Kristen dan versi-versi lain agama Kristen; dan, karena keunggulan ini, mereka memandang versi agama Kristen mereka bagaimana pun juga harus disebarkan ke seluruh tempat di bumi, dengan mengeliminir agama-agama lain non-Kristen dan menjadikanorang-orang non-Kristen bertobat, pindah agama, masuk agama Kristen versi mereka. Mereka memiliki keyakinan bahwa pada akhirnya di dunia ini hanya akan ada satu agama tunggal yang benar, yang tampil sebagai sang pemenang tunggal, yakni agama Kristen fundamentalis. Mentalitas triumfalistik ekspansionistik ini ditemukan dalam semua orang Kristen injili literalis biblis. Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat Fundamentalisme injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA,yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Barat yang mempunyai misi ekspansi peradaban Barat antara lain ke Indonesia.Afiliasi ekonomis dengan kapitalisme Barat memang bukan dibangun olehkelompok-kelompok religius fundamentalis Kristen saja; kelompok-kelompok non-religius di Indonesia pun,misalnya NGO-2, banyak yang hidup dari kucuran dana dari EU dan USA yang kapitalis. PGI pun bahkan bisa hiduphanya karena ada kucuran dana. Bahkan, negara NKRI pun tidak bisa lepas dari dominasi dan pendiktean kapitalismeBarat seperti direpresentasikan dalam IMF dan WB. Namun, hendaknya disadari, sebagian dari kekuatan ekonomi kapitalis USA sudah berada dalam genggaman para tokoh fundamentalis Kristen Amerika (Yahudi dan non-Yahudi), yang, bersama dengan para politikus neokonservatif, sanggup mempengaruhi kebijakan-kebijakan global politik dan militer luar negeri USA, khususnya kebijakan politik USA untuk kawasan Timur Tengah dan negara-negara lain di dunia yang mayoritas rakyatnya beragama Islam. Arti dari semua ini adalah kekristenan fundamentalis Kristen di Indonesia bukan lagi hanya merupakan suatu gerakan religius, tetapi juga gerakan politik ekonomi kapitalis Orang Kristen fundamentalis di mana pun, ia memandang semua nubuat dalam Alkitab harus dipenuhi secara harfiah, khususnya yang berkaitan dengan nasib bangsa Yahudi (Israel modern), pastilah juga para warriors Kristen yang akan dengan penuh komitmen ikut serta untuk merealisasi nubuat para nabi, yakni kemenangan Israel dan kedatangan kembali Messias Yeshua untuk memerintah dunia. Perlu diteliti, berapa banyak orang fundamentalis Kristen Indonesia yang sudah dan sedang menerima pendidikan teologi di sekolah-sekolah teologi di USA yang memandang dengan sangat yakin kebenaran dari visi apokaliptisisme Zionis Yahudi-Kristen . Kristenisasi merupakan faktor penting penjajahan & Zending.Kristen merupakan rekan sepersekutuan bagi pemerintah kolonial. Alb Ckruyt & Ojh Graaf van Limburg Stirum Pendeta Dr. Martin Sinaga, dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Dalam artikel dimajalahPantau, diamenyatakanbahwaKristenisasibukanilusidanitusungguh-sungguhterjadi. "PadaawalnyamisiKristenisasidibebaniolehpemerintahkolonialyang didukungBelanda, tapikurangberhasil. Selanjutnya, misiinidibebaniolehnegara-negaraterutamaAmerikaSerikat, yang sulitdipungkiripunyamedia danuanguntukmelancarkanmisionariitu," ujarPendetaMartin SinagadalamwawancaradenganmajalahPantau. Demikianlah makalah ini saya buat sebagai informasi dan bahan renungan bagi kader-kader persyarikatan Muhammadiyah dimana saja berada. Bogor, 01 Januari 2012 Wassalam, Abu Deedat Syihab,MH
READ MORE - MUHAMMADIYAH DAN GERAKAN KRISTENISASI

Minggu, 27 Mei 2012

Kearifan, Bukan Sekadar Keadilan

Ada seorang peternak kambing dan seorang petani gandum. Suatu saat, kambing milik peternak kambing memakan gandum milik petani gandum sampai habis. Tak terelakkan, petani gandum pun meminta ganti rugi kepada peternak kambing atas perilaku kambing miliknya. Mereka sama-sama bersikeras tidak mau mengalah dan memutuskan untuk naik banding dan meminta keputusan yang terbaik dari Nabiullah Daud A.S. Akhirnya, sampailah permasalahan ini ke Nabiullah Daud A.S. untuk diputuskan jalan keluarnya. Nabiullah Daud A.S. memutuskan peternak kambing harus memberikan seluruh kambingnya kepada petani gandum yang telah menghabiskan gandum di ladang milik petani gandum. Mereka berdua akhirnya menyetujui keputusan itu dan begitu juga rakyatnya. Akan tetapi, Nabiullah Sulaiman A.S. berfikiran lain. Jikalau itu keputusan yang diberikan kepada mereka memang benar adil namun di lain pihak ada yang harus menghadapi kerugian yaitu peternak kambing karena selauruh kambing miliknya harus diberikan sebagai pengganti kerugian gandum si petani. Nabiullah Sulaiman A.S. akhirnya angkat bicara, beliau pun memutuskan untuk peternak kambing untuk meminjamkan kambingnya kepada petani gandum. Peternak kambing mengolah ladang sampai gandum dapat dipanen sementara petani gandum pun berhak untuk mengambil hasil dari kambing milik peternak. Akhirnya, keputusan itulah yang disetujui oleh kedua belah pihak serta Nabiullah Daud A.S. dan rakyat lainnya. Di waktu yang lain, ada seorang ibu tua dan seorang ibu muda. Di saat anak-anak mereka sedang bermain bersama datanglah seekor serigala dan memangsa salah satunya. Sang ibu tua pun segera mengakui bahwa anak yang masih hidup adalah anaknya. Si ibu muda pun tidak mau kalah. Akhirnya, mereka memutuskan untuk naik banding dan meminta Nabiullah Daud A.S. untuk memutuskan jalan keluar dari permasalahan itu. Nabiullah Daud A.S. memutuskan bahwa anak yang masih hidup itu sebagai anak dari si ibu tua. Pengalamanlah yang membawa si ibu tua dapat mengakui anak itu sebagai anaknya. Si ibu muda pun menerima keputusan itu dengan berat hati. Akan tetapi, Nabiullah Sulaiman A.S. berfikir lain. Beliau memutuskan untuk meminta sebilah pisau dan bermaksud membelah anak tersebut menjadi dua. Sebagian untuk si ibu tua dan sebagian yang lain untuk si ibu muda. Sang ibu muda pun memohon kepada Nabiullah Sulaiman A.S. : "semoga Allah SWT merahmati engkau wahai Nabiullah Sulaiman A.S., ku relakan anak itu sebagai anaknya asalkan jangan engkau belah anak itu". Sementara si ibu tua santai dan setuju dengan usul Nabiullah Sulaiman tersebut. Mendengar pernyataan si ibu muda tersebut Nabiullah Sulaiman A.S. berkesimpulan bahwa anak yang masih hidup itu adalah anak dari si ibu muda. Akhirnya, anak itu pun kembali ke dalam pelukan sang ibu kandungnya. Beliau A.S. berfikir mana ada seorang ibu kandung yang normal tanpa kelainan yang mau anak kandungnya dibelah menjadi dua. Membelah sama saja membunuh anak tersebut. Kedua kasus tersebut dapat menjadi tanda kearifan lebih banyak mendatangkan maslahat daripada keadilan. Kearifan di zaman sekarang lebih banyak dibutuhkan untuk memecahkan suatu permasalahan. Keadilan lebih dapat berarti jika sang pengambil keputusan mempertimbangkan kebijaksanaan di dalamnya. Kurang lebihnya mohon dimaafkan. Ambillah pelajaran walaupun sedikit yang dapat engkau amalkan, yang penting adalah kita sudah niat dan berusaha sekuat hati untuk mengamalkannya.
READ MORE - Kearifan, Bukan Sekadar Keadilan

Sabtu, 19 Mei 2012

HAK IBU LEBIH BESAR DARI HAK AYAH

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta'alaa berfirman : Artinya : "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a, "Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir] Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak. Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah. Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, "Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali bertanya, 'Kemudian siapa lagi ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!', Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa lagi, 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Bapakmu' "[Hadits Riwayat Bukhari (AL-Ftah 10/401) No. 5971, Muslim 2548] Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata : "Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul 'Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 : Artinya : "(Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya". Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :"Kamu dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]
READ MORE - HAK IBU LEBIH BESAR DARI HAK AYAH

BERGAUL DENGAN WANITA

1. Dari Abu Hurairah ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda :Berpesan baiklah kamu terhadap wanita, sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan paling bengkok adalah bagian atas. Oleh karena itu, apabila kamu paksa untuk meluruskannya, maka akan hancurlah ia, dan apabila kamu membiarkannya, maka akan bengkoklah ia selamalamanya. Oleh karena itu berpesan baiklah terhadap wanita.(H.R Bukhari dan Muslim) 2. Dari Abdullah bin Zam`ah ra. Ia mendengar Nabi SAW Berkhutbah dan bercerita tentang unta sebagai mu`jizat Nabi Shaleh dan orang yang membunuhnya. Rasulullah SAW, bersabda: “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka, yaitu seorang laki-laki yang amat kuat dan gagah perkasa serta disegani kaumnya. Setelah selesai, beliau melanjutkan khutbahnya tentang wanita, dan memberi nasihat tentang cara bergaul dengan wanita. Beliau bersabda : “Salah seorang di antara kalian ada yang sengaja memarahi isterinya bahkan memukul bagaikan budaknya, lalu pada malam harinya mungkin ia bersetubuh dengannya.” Selanjutnya beliau menasihati para sahabat karena mereka tertawa ada yang buang angin, beliau bertanya : “Mengapa salah seorang di antara kamu menertawakan sesuatu yang iasendiri juga melakukannya?” (H.R Bukhari dan Muslim) 3. Dari Abu Hurairah ra. Berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Janganlah seorang laki-laki mukmin memarahi seorang perempuan mukmin! Apabila tidak suka terhadap salah satu perangainya, maka masih ada perangai lain yang menyenangkan.” ( H.R Muslim) 4. Dari `Amr bin Al-Ahwash Al-Jusyamiy ra. Ia mendengar Nabi SAW, pada haji Wada` berkhutbah. Setelah beliau memanjatkan pujian, sanjungan kepada Allah Ta`ala dan selesai memberi peringatan dan nasihat, beliau bersabda: “Ingatlah, berpesan baiklah terhadap isteri-isteri kalian. Sesungguhnya mereka memerlukan perlindunganmu. Sedikitpun kamu tidak boleh berbuat kejam terhadap mereka, kecuali mereka telah nyata melakukan kejahatan. Jika mereka melakukan kejahatan, janganlah kamu menemani mereka di dalam tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Bila mereka telah taat, janganlah kalian, berlaku keras terhadap mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas isterimu dan isterimu juga mempunyai hak pada diri kalian. Hak kamu atas mereka, yaitu tidak boleh memasukkan orang yang tidak kamu sukai ke dalam kamarmu dan tidak mengizinkan orang yang tidak kamu sukai masuk ke dalam rumahmu. Ingatlah, hak mereka atas kamu adalah kamu bergaul dengan cara yang baik. Terutama dalam memberi pakaian dan makanan. ( H.R Tirmidzi ) 5. Dari Mu`awiyah bin Haidah ra. Ia berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah : “ Apakah hak isteri atas suaminya?” Beliau menjawab : “ Kamu harus memberinya makan apabila kamu makan, harus memberinya pakaian apabila kamu berpakaian, tidak boleh memukul mukanya dan tidak boleh menjelek-jelekkannya, serta tidak boleh mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (H.R Abu Daud) 6. Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata : “Rasulullah SAW Bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Dan orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang paling baik terhadapisterinya.” (HR.Tirmidzi) 7. Dari Iyas bin Abdullah bin Abu Dzubab ra. Ia berkata : Rasulullah SAW Bersabda : “Janganlah kamu memukul kaum wanita !” Kemudian Umar mendatangi Rasulullah SAW Dan berkata : “Wanita-wanita itu kini berani kepada suaminya.” Mendengar yang demikian beliau membolehkan untuk memukulnya.” Kemudian banyak wanita yang mengerumuni Rasulullah SAW, mengadukan perlakuan suaminya. Lalu Rasulullah sw. bersabda: “Sungguh banyak wanita yang mengerumuni rumah Muhammad untuk mengadukan perlakuan suaminya, maka mereka (suaminya) itu bukanlah orang-orang yang terbaik di antara kalian.” (H.R Abu Dawud) 8. Dari Abdullah bin `Amr Al-Ash ra. Ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Dunia adalah suatu kesenangan, dan sebaik-baik kesenangan di dunia adalah wanita yang shalihah.” ( H.RMuslim) sumber www.purwanto-ali.com
READ MORE - BERGAUL DENGAN WANITA

Jumat, 18 Mei 2012

Islam Agama Yang Mudah

Dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu dari Nabi shallallahu `alaihi wa sallambeliau bersabda: Sesungguhnya agama ini adalah agama yang mudah, dan tidaklah seseorang itu melampaui batas dalam menjalankan agama ini kecuali akan kalah dengan sendirinya. Oleh karena itu berusahalah untuk mengamalkan agama ini dengan benar, dan kalau tidak bisa sempurna, maka berusahalah untuk mendekati kesempurnaan. Dan bergembiralah kalian dengan pahala bagi kalian yang sempurna walau pun amalan kalian tidak sempurna. Dan upayakan menguatkan semangat beribadah dengan memperhatikan ibadah di pagi hari dan di sore hari dan di sebagian malam (yakni waktu-waktu di mana kondisi badan sedang segar untuk beribadah). (HR. Al-Bukhari dalam Shahih nya Kitabul Iman bab Ad-Dienu Yusrun hadits ke 39, An-Nasa’i dalam Sunan nya Kitabul Iman bab Ad-Dienu Yusrun hadits ke 5049, Ahmad dalam Musnad nya jilid 4 hal. 422) BEBERAPA PENGERTIAN Sesungguhnya agama ini adalah mudah. Agama yang dimaksud di sini ialah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammadshallallahu `alaihi wa sallam . Ia dikatakan mudah karena dibandingkan dengan agama-agama Islam yang dibawa oleh para Nabi sebelum beliau. Dan tidaklah seorang pun melampaui batas dalam menjalankan agama ini kecuali…. Melampaui batas dalam menjalankan agama ialah melampaui batas dalam menjalankan yang sunnah sehingga meninggalkan yang wajib. Contohnya: orang yang semalam suntuk shalat malam sehingga menjelang shalat subuh dia tertidur karena kelelahan. Akibatnya dia tidak shalat subuh berjamaah di masjid atau bahkan shalat subuhnya setelah matahari terbit. Amalan dia yang melampaui batas itu akan mengalahkannya . Yang dimaksud bahwa amalan itu mengalahkannya ialah bahwa dia akan merasa berat dengan amalan itu sehingga dia cepat bosan dengannya dan kemudian meninggalkannya, bahkan meninggalkan pula amalan-amalan yang lainnya. Juga dalam makna ini ialah ketika seseorang meninggalkan rukhsah(kemudahan yang diberikan oleh agama) dan tetap menjalankan azimah(kemestian agama), maka dia dengan sebab itu akan terjatuh kepada kesulitan karena menjalankan agama dengan cara demikian. Seperti orang sakit yang diberi rukhsah oleh agama untuk bertayammum, tetapi dia tidak mau menggunakan rukhsah itu dan tetap menjalankan azimah , yaitu berwudlu sehingga sakitnya semakin parah karena berwudlu itu. Maka berusahalah untuk mengamalkan agama dengan benar. Yang dimaksud mengamalkan agama dengan benar ialah mengamalkannya dengan tidak memberat-beratkannya dan tidak mengenteng-entengkannya. Tetapi di tengah-tengah di antara keduanya yaitu menjalankan yang wajib lebih diutamakan dari yang sunnah. Memanfaatkan rukhsah dan tidak mengabaikanazimah . Dan berusahalah untuk mendekati kesempurnaan bila tidak mampu menyempurnakannya. Yakni berusahalah untuk menyempurnakan kewajiban agama dengan sekuat tenaga dan sebisa mungkin. Jangan berhenti untuk terus-menerus berusaha menjalankan kewajiban agama dengan sempurna. Dan bergembiralah kalian. Yakni tetaplah kalian bergembira dengan berita bahwa pahala amalan kalian di lipatgandakan oleh Allah dan disempurnakan bila kalian beramal shalih terus-menerus dengan rutin walau pun amalan itu secara kuantitas sedikit. Jadi jangan lemah semangat ketika kenyataannya amalan kalian tidak sempurna dan sedikit karena kelemahan manusiawi yang ada pada kalian. karena yang terbaik dari amalan shalih itu ialah bila dilakukan dengan ikhlas karena Allah dan pengamalannya sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dan lagi amalan itu dilakukan terus-menerus dengan rutin. Dan cari waktu di mana kondisi badan sedang segar untuk beribadah, yaitu di waktu antara setelah terbitnya fajar sampai terbitnya matahari. Dan waktu antara Ashar sampai maghrib dan Isya’. Juga sebagai waktu yang baik untuk beribadah karena kondisi badan dalam keadaan segar. Sebagian waktu dari malam hari yaitu di akhir malam menjelang terbitnya fajar karena setelah tidur di awal malam seusai shalat Isya’ , maka bangun di sepertiga terakhir malam, badan dalam keadaan segar untuk beribadah. PELAJARAN YANG DAPAT KITA AMBIL Hadits ini memberi pelajaran kepada kitadalam beberapa perkara berikut ini: 1). Allah dan Rasul-Nya menghendaki kemudahan dan keringanan bagi umat manusia untuk menjalankan agama-Nya. Allah Ta`ala berfirman: “Dan tidaklah Allah jadikan bagi kalian dalam agama ini kesulitan.” ( Al-Hajj : 78) Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang untuk dijalani rukhsah (kemudahan)-Nya sebagaimana dia benci untuk dijalani kemaksiatan kepada-Nya.” (HR. Ahmaddalam Musnad nya jilid 2 hal. 108 dari Ibnu Umar. Dan hadits ini diriwayatkan pula oleh yang lainnya). 2). Kemudahan dan keringanan yang dimaksud di sini bukanlah berarti mengabaikan kewajiban agama, akan tetapi kewajiban agama itu sendiri adalah kemudahan dan keringanan di banding dengan kewajiban agama bagi umat-umat terdahulu. Contohnya: cara bertaubat bagi umat Nabi Musa `alaihis salamadalah dengan membunuh diri sendiri, sedangkan taubat bagi umat ini adalah hanya dengan meninggalkan secara total kedurhakaan yang ia terjatuh padanya dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatannya serta menyesali perbuatan kedurhakaannya. (Lihat Fathul Bari Ibnu Hajar jilid 1 hal. 93 hadits ke 39) 3). Kewajiban-kewajiban agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wa sallam mengandung berbagai kemudahan dan keringanan. Seperti shalat itu kewajibannya ialah dengan berdiri. Bila tidak mampu karena sakit atau sebab lainnya maka boleh dilaksanakan dengan duduk. Dan bila tidak mampu dengan duduk, maka boleh pula dengan terlentang dan selanjutnya. Berwudlu diwajibkan untuk dilakukan dengan air. Tetapi bila tidak memungkinkan karena tidak ada air atau karena sakit, maka boleh dilakukan tayammum dengan debu sebagai pengganti wudlu dan mandi junub. Demikianlah berbagai kewajiban agama Islam selalu diberi berbagai ketentuan yang memudahkan dan meringankan bagi umat ini. 4). Di samping berbagai kewajiban agama, Allah dan Rasul-Nya juga mengajarkan berbagai amalan sunnah dan afdhal . Agar hamba Allah yang menyempurnakan amalan agamanya, melengkapi amalan kewajiban agamanya dengan amalan sunnah dan afdhal . Yang demikian itu lebih tinggi kedudukannya daripada mereka yang hanya mengamalkan kewajiban agama. 5). Dalam menjalankan upaya penyempurnaan amalan agama dengan menjalankan kewajiban dan sunnah serta afdhal , harus diingat bahwa amalan yang wajib lebih utama, harus diperhatikan pengamalannya daripada amalan-amalan sunnah atau afdhal. Karena itu dalam mengamalkan yang sunnah danafdhal dilarang sampai mengabaikan bahkan meninggalkan yang wajib. Karena yang demikian ini berarti melampaui batas dalam beragama dan dicela Allah Ta`ala dan Rasul-Nya. 6). Menyempurnakan amalan agama itu harus memperhatikan kondisi dan kekuatan jasmani dan rohani. Maka sangat dianjurkan untuk beribadah dalam kondisi badan yang segar dan dilarang beribadah dalam kondisi badan yang sangat letih atau sangat mengantuk. Sangat dianjurkan pula untuk mempertimbangkan keberlangsungan amalan sampai mati karena itu jangan sampai memperbanyak amalan sunnah dan afdhal yang kiranya hanya dilakukan sesaat kemudian ditinggalkan. Dan dilarang pula untuk memperbanyak amalan sunnah yang berakibat munculnya perasaan bosan dan letih, sehingga meninggalkan amalan itu bahkan meninggalkan pula yang wajib. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Wajib kalian menjalankan agama ini yang kiranya kalian mampu untuk langgeng dengan amalan itu. demi Allah, tidaklah Allah itu bosan dalam memberi pahala kepada amalan kalian sehingga kalian bosan beramal dan berhenti untuk beramal karena bosan. Dan amalan agama yang paling disenangi oleh Rasulullah adalah amalan yang langgeng diamalkan oleh pelakunya.” (HR. Bukhari dalam Kitab Shahih nya kitabul Iman bab Ahabbud Din Ilallahi Adwanuhu, hadits ke 43 dari Aisyah radliyallahu `anha ). 7). Agama Islam mewajibkan kita untuk memperhatikan haknya badan untuk makan dan minum dan istirahat. Haknya anak dan istri untuk mendapatkan perhatian yang selayaknya dan kemudian haknya Allah untuk diibadahi dan dijalankan ajaran syariat-Nya. Maka dalam menjalankan segenap hak masing-masing pihak itu, tidak boleh ada pihak yang diabaikan haknya. Demikian itulah pengamalan agama yang benar, adil dan dalam batas kewajaran. Rasulullahshallallahu `alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini kokoh, maka beramallah dengannya dengan kelembutan, dan janganlah engkau membikin dirimu tidak suka beribadah kepada Allah karena merasa terlalu berat, karena orang yang terhenti dari bepergiannya itu ialah kendaraannya dan bekalnya tidak mampu lagi melanjutkan perjalanannya sampai ke tempat tujuanya. Oleh karena itu beramallah engkau dengan semangat seperti orang yang menyangka bahwa dia tidak akan mati selama-lamanya dan penuh kehati-hatian seperti orang yang dalam keadaan takut bahwa besok akan mati.” (HR. Al-Baihaqi dalam kitabnyaAs-Sunanul Kubra jilid 3 hal. 19 dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash). PENUTUP Demikianlah Islam amat memperhatikan tabiat kemanusiaan yang penuh kelemahan dan kelalaian. Oleh karena itu Islam adalah agama yang sangat mencocoki fitrah kemanusiaan. Dan beramal dengan agama ini bila dibimbing dengan ilmu Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka akan selamat dari sikap melampaui batas yang dicela oleh Allah dan Rasul-Nya. Itulah sebabnya mengapa Rasulullahshallallahu `alaihi wa sallam sangat menganjurkan kita kaum Muslimin untuk menuntut ilmu agama sampai mati. DAFTAR PUSTAKA 1). Al-Qur’an 2). Shahih Al-Bukhari , Al-Imam Al-Bukhari, penerbit Darul Kutub Al-Arabiyah, tanpa tahun. 3). Fathul Bari , Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, Al-Maktabah As-Salafiyah, tanpa tahun. 4). Fathul Bari , Ibnu Rajab Al-Hanbali, Daru Ibnul Jauzi, cetakan 1, th. 1417 H / 1996 M. 5). Musnad Imam Ahmad bin Hanbal , Al-Imam Ahmad bin Hanbal, tanpa penerbit dan tahun. 6). As-Sunanul Kubra , Al-Baihaqi, Darul Fikri, tanpa tahun. Disalin dari: http://alghuroba.org/mudah.php
READ MORE - Islam Agama Yang Mudah